Minggu, 02 Mei 2010
Selasa, 22 Desember 2009
Ya Allah berilah kesempatan aku untuk dapat berbakti buat simbokku
Alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk merawat beliau di akhir hayatnya. Seminggu lamanya kami bertiga (aku, adik bungsuku, dan istriku) menunggui Ibu yang dalam kondisi tak sadarkan diri, di ruang VVIP RS Sarjito. Bertiga kami bergantian meronda membacakan ayat2 suci Al Qur'an dan menuntun mengucapkan Kalimat Toyibah tanpa henti. Alhamdulillah di hembusan nafas terakhirnya, sambil tersenyum dan meneteskan air mata beliau mengucap .... La Ilaha ilallah....
Ibu adalah sosok yang sangat kami cintai, sangat kami sayangi (... ya Allah sayangi ibuku melebihi sayangnya padaku sewaktu aku kecil, lapangkan kuburnya, terangilah jalannya...). Beliau mengajarkan kerukunan, saling berbagi, setia kawan, kerja keras tanpa keluh kesah pada kami bertujuh, bukan dengan kata2 , tapi dengan tindakan nyata hingga akhir hayatnya.
Ibu adalah wanita yang sangat kuat, penuh semangat. Dengan segala upayanya berusaha membantu Ayah memenuhi kebutuhan kami bertujuh. Begitu kuatnya beliau, bahkan ketika melahirkan si bungsu, beliau berlari dari pasar meninggalkan dagangannya menuju rumah (sekitar 3 km)... dan si bungsu terlahir di kamar mandi.
Aku ingat ketika ada rembang (panen) tebu di dekat desa kami (kira2 tahun 1976)... beliau pasti mencari sisa2 tebu kering untuk kayu bakar, sampai bertumpuk2 di samping rumah, hingga tumpukan itu menyentuh atap. Kegiatan itu beliau lakukan ketika pulang dari berjualan di pasar hingga gelap ketika yang dicari sudah tidak terlihat lagi.
Aku ga tahu bagaimana Beliau mencukupkan belanja dari penghasilan Ayah yang tidak seberapa, buat kami anak2nya bertujuh. Setahuku dia selalu makan pada giliran yang terakhir. Setahuku dia selalu berpakaian seadanya. Setahuku Beliau tidak pernah bersenang-senang untuk dirinya sendiri. Dan setahuku Beliau sangat menyayangi kami.
Ya Allah Ya Robbal Alamin...
Sayangi beliau melebihi rasa sayangnya ke pada kami
Ampunkanlah segala khilaf dan kesalahannya
tempatkan disisiMu, tempat yang sebaik2nya
sejahterakanlah dan bahagiakanlah Beliau.
dan sampaikanlah kepadanya.... bahwa kami sangat menyayanginya.
Amiin.
Tulisan Tri Budi Utama : Kakaknya Pak Untung
Selasa, 20 Oktober 2009
Semua akan mudah kalau kita bergantung sama Allah
Namun alangkah beratnya untuk melakukan kebaikan..walaupun sejatinya dalam perbuatan kebaikan itu akan menghasilkan hati yang tenteram, karena apa yang akan dilakukan dan apa yang akan di minta untuk kebaikan pasti akan di mudahkan oleh Allah.
Rabu, 04 Februari 2009
Selasa, 25 November 2008
Indahnya Silaturrahmi
Senin, 07 Juli 2008
Pemberian yang tidak seberapa tapi sangat berarti
Waktu saya di tugaskan di Kotabumi, sebuah daerah yang menjadi Ibu
Diseberang jalan setapak terdapat rumah yang di huni oleh seorang nenek yang sudah udzur, dan disebelah kiri tembok pembatas rumah ada sebuah rumah gubuk yang di huni oleh keluarga yang sangat sederhana, Kepala rumah tangganya bekerja sebagai tukang batu, dan sesekali menanam singkong di depan rumahnya, yang kebetulan memang merupakan lahan kosong.
Suatu hari ketika keluarga kecilku sudah menempati rumah kontrakan ini sekitar 2 minggu, isteriku bilang ke saya “ pah, kalau papah gajian, gimana kalau nenek yang ada di depan rumah kita dan Ibu yang ada di samping rumah kita, kita belikan telur satu kilo dan gula satu kilo gimana ? “
“ Ya belikan saja mah, jangan di tunda-tunda “
Akhirnya isteri saya setiap saya gajian, sorenya belanja di warung, untuk beli kebutuhan kelurga satu bulan dan tidak lupa membeli telur dan gula untuk di berikan kepada nenek depan rumah dan juga Ibu yang ada di samping rumah kontrakan kami.
Isteri saya bilang “ pah, kita memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan, dengan memberi kepada orang yang berpunya, rasanya lain ya pah “ nenek dan Ibu tadi waktu mamah antarkan telur dan gula tadi, kelihatan sekali sangat senang ”
Padahal yang kami berikan tidaklah seberapa, dan mungkin tidak terasa apabila itu di berikan begitu kita gajian, dan tidak ditunda-tunda.
Dan kegiatan itu, isteri jalankan selama kurang lebih satu tahun, selama kami menempati rumah kontrakan itu. Karena menginjak tahun yang kedua, Kepala kantor saya, mengamanahi keluarga saya untuk menempati rumah dinas.dengan demikian saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya kontrak rumah lagi,
saya jadi teringat nasehat Bapak saya waktu saya masih kumpul dengan Bapak dulu “ le, orang yang berbuat baik pasti akan berbalas dengan kebaikan, dan orang dalam bertetangga atau bermasyarakat lebih baik berpagar nasi daripada berpagar besi “yang artinya untuk menjaga dan melindungi rumah lebih baik berbuat baik kepada tetangga, dengan saling memberikan sesuatu sebagai perhatian daripada kita berbuat bakhil dan memagari rumah dengan tembok dan besi yang tinggi “
Kalau ingat perkataan bapak saya itu, saya jadi, teringat akan sebuah riwayat, bahwa baginda Rasululloh menganjurkan kepada umatnya, apabila memasak daging supaya di banyakkan kuahnya, supaya bisa memberikan kepada tetangganya, dan juga anjuran dan perintah untuk menghormati tetangga.
Setelah, menempati rumah dinas pun walaupun berada di komplek perkantoran, isteri yang sangat saya kagumi, selalu menunjukkan kemuliaannya “ kadang Koran-koran yang sudah tidak di baca diberikan kepada tukang sayur, supaya bisa di manfaatkan sebagai bungkus.
Suatu hari, disaat kumpul dan mengajari belajar anak saya Salma, isteri bilang “ Pah, kita mesti menyisihkan penghasilan papah untuk di kirim ke Simbok ( Ibu ), dan kalau bisa rutin sih pah, walaupun tidak banyak tapi, kita bisa menunjukkan kepada orang tua bahwa kita walaupun jauh kita tetap bisa selalu memperhatikan.
Ya Alloh, terima kasih, hamba telah Engkau Kasih seorang Isteri yang sholehah, yang selalu menyejukkan hati hamba setiap tingkah lakunya,seorang isteri yang tidak menuntut macam-macam kepada suaminya.
Bahkan ketika di hasut oleh Ibu pejabat yang ada di sebelah rumah kamipun isteri saya tidak termakan hasutannya, isteri suatu hari menjelang tidur bilang ke saya “ pah, tadi ibu sebelah itu kasih tahu mamah, supaya mamah jaga jarak dengan isteri anak buah papah, karena kalau nanti, mamah terlalau dekat dengan isteri anak buah papah, mereka bisa melonjak dan minta macam-macam “
“Terus gimana jawaban mamah ?“
“ yah, mamah jawab saja iya, “ tapi pah masak kita mesti membeda-bedakan status”
Yah, walaupun dapat hasutan yang kayak gitu, tapi isteri saya tidak pernah membeda-bedakan, bahkan dengan berbuat baik kepada siapa saja, mereka juga berbuat baik kepada keluarga saya.Bahkan waktu kelahiran anak saya yang ke tiga Hafidz, teman-teman bergantian menjengunguk dan memberikan ucapan selamat kepada kami”
“Mah, sudah satu Tahun, Sembilan bulan Engkau Tinggalkan aku dan anak-anak, sekarang aku kesepian…aku cinta dan sayang mamah, tapi mamah lebih di sayang dan di cintai Alloh, sehingga Alloh memanggil mamah duluan, sebelum mamah sempat melihat tempat tugas papah di Sidikalang.
Mah, sekarang anak-anak masih jauh sama aku, setelah mamah di panggil Alloh, Salma sekolah di Solo, sedang Rafi dan Hafidz masih di Jakarta.mah…ketika aku sedih, salma selalu mengingatkan aku “ pah, di ikhlaskan ya mamah,
Mah, salma anak kita yang pertama sekarang sudah berumur 10 tahun, dan Hafidz sekarang umur 4 tahun, mudah-mudahan nanti Papah mendapatkan isteri lagi yang sayang dan cinta sama papah dan anak-anak ya mah, yang dengan ikhlas mendidik anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah,sehingga menjadi ladang amalnya, dan juga menjadi penerang kita kalau aku juga sudah mati nanti, karena selalu mendoakan kita, Amien.
www.putrajatirogo.blogspot.com
Sidikalang, 7 Juli 2008
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'
'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.
'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'
'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'
'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita