Selasa, 22 Desember 2009

Umati...Umati...Umati..

AIRMATA RASULULLAH SAW...

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'
'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.
'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'
'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'
'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'


Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita

Ya Allah berilah kesempatan aku untuk dapat berbakti buat simbokku

Hari ini Setahun yang lalu
Hari ini setahun yang lalu, pada saat hari ibu, ketika adzan dhuhur berkumandang ... IBUku menghadap Sang Maha Pengasih, sambil menggenggam lembut tanganku. Senyum keikhlasannnya ta' pernah kulupakan hingga saat ini.

Alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk merawat beliau di akhir hayatnya. Seminggu lamanya kami bertiga (aku, adik bungsuku, dan istriku) menunggui Ibu yang dalam kondisi tak sadarkan diri, di ruang VVIP RS Sarjito. Bertiga kami bergantian meronda membacakan ayat2 suci Al Qur'an dan menuntun mengucapkan Kalimat Toyibah tanpa henti. Alhamdulillah di hembusan nafas terakhirnya, sambil tersenyum dan meneteskan air mata beliau mengucap .... La Ilaha ilallah....

Ibu adalah sosok yang sangat kami cintai, sangat kami sayangi (... ya Allah sayangi ibuku melebihi sayangnya padaku sewaktu aku kecil, lapangkan kuburnya, terangilah jalannya...). Beliau mengajarkan kerukunan, saling berbagi, setia kawan, kerja keras tanpa keluh kesah pada kami bertujuh, bukan dengan kata2 , tapi dengan tindakan nyata hingga akhir hayatnya.

Ibu adalah wanita yang sangat kuat, penuh semangat. Dengan segala upayanya berusaha membantu Ayah memenuhi kebutuhan kami bertujuh. Begitu kuatnya beliau, bahkan ketika melahirkan si bungsu, beliau berlari dari pasar meninggalkan dagangannya menuju rumah (sekitar 3 km)... dan si bungsu terlahir di kamar mandi.

Aku ingat ketika ada rembang (panen) tebu di dekat desa kami (kira2 tahun 1976)... beliau pasti mencari sisa2 tebu kering untuk kayu bakar, sampai bertumpuk2 di samping rumah, hingga tumpukan itu menyentuh atap. Kegiatan itu beliau lakukan ketika pulang dari berjualan di pasar hingga gelap ketika yang dicari sudah tidak terlihat lagi.

Aku ga tahu bagaimana Beliau mencukupkan belanja dari penghasilan Ayah yang tidak seberapa, buat kami anak2nya bertujuh. Setahuku dia selalu makan pada giliran yang terakhir. Setahuku dia selalu berpakaian seadanya. Setahuku Beliau tidak pernah bersenang-senang untuk dirinya sendiri. Dan setahuku Beliau sangat menyayangi kami.

Ya Allah Ya Robbal Alamin...
Sayangi beliau melebihi rasa sayangnya ke pada kami
Ampunkanlah segala khilaf dan kesalahannya
tempatkan disisiMu, tempat yang sebaik2nya
sejahterakanlah dan bahagiakanlah Beliau.
dan sampaikanlah kepadanya.... bahwa kami sangat menyayanginya.
Amiin.
Tulisan Tri Budi Utama : Kakaknya Pak Untung

Selasa, 20 Oktober 2009

Semua akan mudah kalau kita bergantung sama Allah

Banyak manusia yang begitu gampang terjerumus dan melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama..seperti munum-minuman keras, main perempuan, judi dan lain sebagainya, haltersebut di karenakan pada dasarnya manusia akan lebh mudah untuk melakukan hal-hal negatif daripada melakukan hal-hal yang positif.namun saya yakin orang yang melakukan perbuatan negatif dapat dipastikan hati nurani sebenarnya menolak.dan penyesalan pasti ada.

Namun alangkah beratnya untuk melakukan kebaikan..walaupun sejatinya dalam perbuatan kebaikan itu akan menghasilkan hati yang tenteram, karena apa yang akan dilakukan dan apa yang akan di minta untuk kebaikan pasti akan di mudahkan oleh Allah.

Rabu, 04 Februari 2009

Tanggal, 14 Januari 2009 saya terbang dari Medan menuju Banda Aceh, ke tempat tugas baru saya