Selasa, 22 Desember 2009

Ya Allah berilah kesempatan aku untuk dapat berbakti buat simbokku

Hari ini Setahun yang lalu
Hari ini setahun yang lalu, pada saat hari ibu, ketika adzan dhuhur berkumandang ... IBUku menghadap Sang Maha Pengasih, sambil menggenggam lembut tanganku. Senyum keikhlasannnya ta' pernah kulupakan hingga saat ini.

Alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk merawat beliau di akhir hayatnya. Seminggu lamanya kami bertiga (aku, adik bungsuku, dan istriku) menunggui Ibu yang dalam kondisi tak sadarkan diri, di ruang VVIP RS Sarjito. Bertiga kami bergantian meronda membacakan ayat2 suci Al Qur'an dan menuntun mengucapkan Kalimat Toyibah tanpa henti. Alhamdulillah di hembusan nafas terakhirnya, sambil tersenyum dan meneteskan air mata beliau mengucap .... La Ilaha ilallah....

Ibu adalah sosok yang sangat kami cintai, sangat kami sayangi (... ya Allah sayangi ibuku melebihi sayangnya padaku sewaktu aku kecil, lapangkan kuburnya, terangilah jalannya...). Beliau mengajarkan kerukunan, saling berbagi, setia kawan, kerja keras tanpa keluh kesah pada kami bertujuh, bukan dengan kata2 , tapi dengan tindakan nyata hingga akhir hayatnya.

Ibu adalah wanita yang sangat kuat, penuh semangat. Dengan segala upayanya berusaha membantu Ayah memenuhi kebutuhan kami bertujuh. Begitu kuatnya beliau, bahkan ketika melahirkan si bungsu, beliau berlari dari pasar meninggalkan dagangannya menuju rumah (sekitar 3 km)... dan si bungsu terlahir di kamar mandi.

Aku ingat ketika ada rembang (panen) tebu di dekat desa kami (kira2 tahun 1976)... beliau pasti mencari sisa2 tebu kering untuk kayu bakar, sampai bertumpuk2 di samping rumah, hingga tumpukan itu menyentuh atap. Kegiatan itu beliau lakukan ketika pulang dari berjualan di pasar hingga gelap ketika yang dicari sudah tidak terlihat lagi.

Aku ga tahu bagaimana Beliau mencukupkan belanja dari penghasilan Ayah yang tidak seberapa, buat kami anak2nya bertujuh. Setahuku dia selalu makan pada giliran yang terakhir. Setahuku dia selalu berpakaian seadanya. Setahuku Beliau tidak pernah bersenang-senang untuk dirinya sendiri. Dan setahuku Beliau sangat menyayangi kami.

Ya Allah Ya Robbal Alamin...
Sayangi beliau melebihi rasa sayangnya ke pada kami
Ampunkanlah segala khilaf dan kesalahannya
tempatkan disisiMu, tempat yang sebaik2nya
sejahterakanlah dan bahagiakanlah Beliau.
dan sampaikanlah kepadanya.... bahwa kami sangat menyayanginya.
Amiin.
Tulisan Tri Budi Utama : Kakaknya Pak Untung

Tidak ada komentar: