Senin, 07 Juli 2008

Pemberian yang tidak seberapa tapi sangat berarti

Waktu saya di tugaskan di Kotabumi, sebuah daerah yang menjadi Ibu kota Kabupaten Lampung Utara, saya mengontrak sebuah rumah bedeng kurang lebih satu tahun. Rumah kontrakan ini terdiri dari 3 rumah bedeng atau 3 pintu , masing-masing rumah mempunyai 2 kamar tidur, dapur, ruang tamu dan 1 kamar mandi, lumayanlah untuk keluarga seperti saya ini yang baru mempunyai anak 2 Salma dan Rafi, kebetulan yang mengontrak bedeng-bedeng ini adalah teman-teman satu kantor, isteri saya dan isteri teman saya adalah ibu rumah tangga, sedang rumah bedeng yang ke tiga isterinya adalah karyawati di sebuah perkantoran pemerintah. Rumah-rumah ini di batasi dengan tembok setinggi dada orang dewasa, sebelah tembok pagar adalah jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki, yang merupakan jalan penduduk sekitar menuju masjid yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah yang saya kontrak.

Diseberang jalan setapak terdapat rumah yang di huni oleh seorang nenek yang sudah udzur, dan disebelah kiri tembok pembatas rumah ada sebuah rumah gubuk yang di huni oleh keluarga yang sangat sederhana, Kepala rumah tangganya bekerja sebagai tukang batu, dan sesekali menanam singkong di depan rumahnya, yang kebetulan memang merupakan lahan kosong.

Suatu hari ketika keluarga kecilku sudah menempati rumah kontrakan ini sekitar 2 minggu, isteriku bilang ke saya “ pah, kalau papah gajian, gimana kalau nenek yang ada di depan rumah kita dan Ibu yang ada di samping rumah kita, kita belikan telur satu kilo dan gula satu kilo gimana ? “

“ Ya belikan saja mah, jangan di tunda-tunda “

Akhirnya isteri saya setiap saya gajian, sorenya belanja di warung, untuk beli kebutuhan kelurga satu bulan dan tidak lupa membeli telur dan gula untuk di berikan kepada nenek depan rumah dan juga Ibu yang ada di samping rumah kontrakan kami.

Isteri saya bilang “ pah, kita memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan, dengan memberi kepada orang yang berpunya, rasanya lain ya pah “ nenek dan Ibu tadi waktu mamah antarkan telur dan gula tadi, kelihatan sekali sangat senang ”

Padahal yang kami berikan tidaklah seberapa, dan mungkin tidak terasa apabila itu di berikan begitu kita gajian, dan tidak ditunda-tunda.

Dan kegiatan itu, isteri jalankan selama kurang lebih satu tahun, selama kami menempati rumah kontrakan itu. Karena menginjak tahun yang kedua, Kepala kantor saya, mengamanahi keluarga saya untuk menempati rumah dinas.dengan demikian saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya kontrak rumah lagi,

saya jadi teringat nasehat Bapak saya waktu saya masih kumpul dengan Bapak dulu “ le, orang yang berbuat baik pasti akan berbalas dengan kebaikan, dan orang dalam bertetangga atau bermasyarakat lebih baik berpagar nasi daripada berpagar besi “yang artinya untuk menjaga dan melindungi rumah lebih baik berbuat baik kepada tetangga, dengan saling memberikan sesuatu sebagai perhatian daripada kita berbuat bakhil dan memagari rumah dengan tembok dan besi yang tinggi “

Kalau ingat perkataan bapak saya itu, saya jadi, teringat akan sebuah riwayat, bahwa baginda Rasululloh menganjurkan kepada umatnya, apabila memasak daging supaya di banyakkan kuahnya, supaya bisa memberikan kepada tetangganya, dan juga anjuran dan perintah untuk menghormati tetangga.

Setelah, menempati rumah dinas pun walaupun berada di komplek perkantoran, isteri yang sangat saya kagumi, selalu menunjukkan kemuliaannya “ kadang Koran-koran yang sudah tidak di baca diberikan kepada tukang sayur, supaya bisa di manfaatkan sebagai bungkus.

Suatu hari, disaat kumpul dan mengajari belajar anak saya Salma, isteri bilang “ Pah, kita mesti menyisihkan penghasilan papah untuk di kirim ke Simbok ( Ibu ), dan kalau bisa rutin sih pah, walaupun tidak banyak tapi, kita bisa menunjukkan kepada orang tua bahwa kita walaupun jauh kita tetap bisa selalu memperhatikan.

Ya Alloh, terima kasih, hamba telah Engkau Kasih seorang Isteri yang sholehah, yang selalu menyejukkan hati hamba setiap tingkah lakunya,seorang isteri yang tidak menuntut macam-macam kepada suaminya.

Bahkan ketika di hasut oleh Ibu pejabat yang ada di sebelah rumah kamipun isteri saya tidak termakan hasutannya, isteri suatu hari menjelang tidur bilang ke saya “ pah, tadi ibu sebelah itu kasih tahu mamah, supaya mamah jaga jarak dengan isteri anak buah papah, karena kalau nanti, mamah terlalau dekat dengan isteri anak buah papah, mereka bisa melonjak dan minta macam-macam “

“Terus gimana jawaban mamah ?“

“ yah, mamah jawab saja iya, “ tapi pah masak kita mesti membeda-bedakan status”

Yah, walaupun dapat hasutan yang kayak gitu, tapi isteri saya tidak pernah membeda-bedakan, bahkan dengan berbuat baik kepada siapa saja, mereka juga berbuat baik kepada keluarga saya.Bahkan waktu kelahiran anak saya yang ke tiga Hafidz, teman-teman bergantian menjengunguk dan memberikan ucapan selamat kepada kami”

“Mah, sudah satu Tahun, Sembilan bulan Engkau Tinggalkan aku dan anak-anak, sekarang aku kesepian…aku cinta dan sayang mamah, tapi mamah lebih di sayang dan di cintai Alloh, sehingga Alloh memanggil mamah duluan, sebelum mamah sempat melihat tempat tugas papah di Sidikalang.

Mah, sekarang anak-anak masih jauh sama aku, setelah mamah di panggil Alloh, Salma sekolah di Solo, sedang Rafi dan Hafidz masih di Jakarta.mah…ketika aku sedih, salma selalu mengingatkan aku “ pah, di ikhlaskan ya mamah, kan sudah takdir “

Mah, salma anak kita yang pertama sekarang sudah berumur 10 tahun, dan Hafidz sekarang umur 4 tahun, mudah-mudahan nanti Papah mendapatkan isteri lagi yang sayang dan cinta sama papah dan anak-anak ya mah, yang dengan ikhlas mendidik anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah,sehingga menjadi ladang amalnya, dan juga menjadi penerang kita kalau aku juga sudah mati nanti, karena selalu mendoakan kita, Amien.

www.putrajatirogo.blogspot.com

Sidikalang, 7 Juli 2008

Tidak ada komentar: